kurikulum 2013

Evaluasi Kurikulum 2013

Sebuah Renungan Sang Guru: Evaluasi Kurikulum 2013

Sobat Canggih, mumpung masih liburan akhir semester ganjil nih.. ada waktu untuk mencorat-coreti website ini. Saya ingin berbagi unek-unek berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013 yang telah dicabut pelaksanaannya di sebagian besar sekolah di tanah air, kecuali di sekolah saya karena sudah menerapkan selama tiga semester.

Pergantian kurikulum tentunya dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia yang pada beberapa tahun belakangan sempat mengalami kemunduran jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Selain itu, fenomena kemunduran akhlak mulai dari kalangan anak-anak dan remaja yang sudah sangat akrab dengan pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba, hingga kalangan elit yang duduk di ‘singgasana’ pemerintahan sudah sering kita dengar dan lihat di media massa banyak yang tertangkap KPK karena kasus korupsi. Seluruh fenomena rusaknya akhlak generasi muda dan ‘generasi yang sudah tidak muda’ itu ujung-ujungnya mengkambinghitamkan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, dalam hal ini digawangi oleh seorang guru di sekolah. Jadi, haruskah guru yang dipersalahkan atas kemerosotan moral di masyarakat?

Contoh kecil saja jika seorang siswa melakukan kenakalan, siapa yang pertama dipanggil?? Jika siswa sering terlambat ke sekolah, siapa yang pertama dipanggil?? Bahkan jika siswa melakukan hal-hal aneh di luar sekolah pun siapa yang pertama dipanggil?? Jawabannya adalah: Walikelasnya yang notabene adalah guru di sekolahnya. Bahkan guru sendiri pun masih mengkambinghitamkan walikelas (guru juga) ketika siswanya agak nyeleneh di kelasnya. “Siapa sich walikelasnya?”, begitu kira-kira ucapan guru tersebut. Waduh.. kalau seperti ini, banyak sekali dosa seorang guru ya, khususnya walikelas kalau harus menanggung semua yang dilakukan anak didiknya.

Ngomong-ngomong soal mendidik, apakah mungkin seorang guru mendidik siswanya menjadi nakal, terlibat pergaulan bebas, mencuri, atau hal-hal negatif lainnya? Tentunya tidak. Seorang pendidik tentunya ingin memberikan didikan yang positif, bukan sebaliknya. Apakah pendidik itu guru saja? Bukan! Orangtua di rumah itulah pendidik anak-anak mereka yang sejati. Kenapa bukan mereka saja yang dipersalahkan? Apakah anda pernah mendengar istilah globalisasi? Siapa yang rajin menyiarkan budaya luar seperti misalnya pergaulan bebas yang notabene negatif ke hadapan generasi muda kita? Siapa yang rajin menyiarkan tindak kekerasan? Mungkin dari situlah masyarakat secara tidak sadar dididik sehingga lambat-laun terjadi perubahan perilaku sosial yang meluas di masyarakat. Lantas, kenapa bukan siaran televisi saja yang dipersalahkan?

tugas-numpuk-2-1024x640Terlepas dari salah-menyalahkan, sepertinya dalam menghadapi fenomena sosial tersebut, sorotan pemerintah salah satunya tertuju pada sistem pendidikan Indonesia. Sistemnya harus diubah supaya hasilnya berubah, tentunya diharapkan menjadi lebih baik. Maka dari itu, dalam kurikulum 2013 muncul tiga aspek penilaian: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Unsur sikap menjadi penentu utama seorang siswa kompeten atau tidak pada suatu mata pelajaran. Ujung-ujungnya, tugas guru pun bertambah, konsentrasi terbanyak adalah menilai ketiga aspek tersebut. Guru tidak perlu menyampaikan materi secara tuntas, biarkan siswa yang mencari sendiri apa yang harus mereka pelajari. Berikan tugas mandiri untuk dikerjakan di rumah. Bayangkan kalau ini terjadi di seluruh pelajaran, maka akhirnya beban belajar siswa pun bertambah tidak hanya di sekolah, bahkan hingga di rumah harus mengerjakan bertumpuk PR. Di sekolah masih bingung, di rumah tambah puyeng, kasihan sekali ya..

Saya rasa kurikulum 2013 itu sudah cukup ideal. Bagaimana tidak, penilaian harus benar-benar autentik sehingga nilai tidak bisa asal atau disulap oleh guru. Guru harus fokus menilai siswanya yang jumlahnya lebih dari 30 orang perkelas. Format penilaiannya banyak pula. Namun, yang terlalu ideal biasanya sulit dilakukan. Akhirnya hal yang sulit itu jarang dilakukan. Betul tidak? Selain itu, jumlah siswa yang terlalu banyak tentunya menyulitkan guru dalam menilai. Sumber belajar (Buku Siswa dan Buku Guru) tidak tersedia untuk hampir sebagian besar mata pelajaran tentunya sangat menyulitkan siswa dalam mempelajari materi ajar. Jika diarahkan ke internet, tidak semua siswa benar-benar memanfaatkannya sebagaimana mestinya. Belum lagi masih banyak sekolah yang belum tersentuh internet di tanah air ini. Di sisi guru, isi silabus pelajaran yang harus diajarkan kepada siswa belum sepenuhnya dikuasai oleh guru tersebut, bahkan guru yang notabene sudah tersertifikasi pun masih perlu mendapatkan pelatihan tambahan pada materi ajar tertentu karena selama ini (kurikulum sebelumnya) di silabus tidak pernah muncul materi tersebut. Rasanya masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh pemerintah sebelum sepenuhnya memberlakukan kurikulum 2013 ini.